Kardus-kardus Bekas

Barangkali ini yang terbaik, langkah tepat untuk membiarkannya merunduk di sana. Di depan pintu masuk, di antara tempat bermain, dan sebagian menutupi cahaya ke ruang baca. Kardus-kardus bekas bertumpukan dari rendah ke tinggi, sia-sia bekas orang pindahan kemarin. “Mau diapakan?” kata si lelaki. “Biarlah, begini saja,” jawab perempuannya ringan.

Barangkali ini tak terlalu baik, ada yang terasa anyir di ingatan dan bayang-bayangnya banyak mengikuti mimpi si pasangan muda tadi. Si lelaki sulit fokus kerja siangnya, malamnya terus menguntit pikiran kepada kardus-kardus bekas itu. Apalagi di luar sedang hujan, “Bagaimana jika sampai basah?” matanya menembus kebulan asap yang menari-nari di ruangan itu. Dari rokoknya. Si perempuan di tempat tidur, ia jadi ragu melihat laki-lakinya termenung begitu. “Apa mungkin salah meninggalkannya di teras rumah?” pikirannya dalam menatap ke pelupuk lelakinya.

Barangkali yang terburuk sudah dilakukan pasangan muda itu dulu. Mereka tak pernah berencana tentang kardus-kardus bekas itu. Yang mereka ingin, setelah luka sembuh, Katrina berhenti, mereka beranjak. Pindah menyusuri jalan paling ujung yang mereka tahu. Mencari ketenangan. Namun sayang, tanpa sadar, ketika pindahan mereka terlalu banyak membawa barang. Ada di kardus-kardus bekas itu.

Sekarang, mereka tak bisa apa-apa. Kardus-kardus bekas itu terbawa kemari.

Ada satu malam, ketika pasangan muda itu tidur dengan pulasnya. Bukan karena kelupaan soal kardus-kardus bekas itu, melainkan karena kelelahan angkat-angkat barang. Satu-satu isi dalam kardus-kardus bekas itu keluar. Menertawakan si sepasang muda tadi. “Mereka bodoh, kenapa kardus-kardus bekas begini di taruh di teras?” begitu barang-barang berkata.

“Tak takut sama pemulung rupanya,” timpal yang lain.

18-01-31-13-12-13-765_photo

Ada satu siang, ketika Ketua RT setempat niat berkunjung ke penghuni baru, ia malah jatuh tersungkur dari motornya. Sebab meleng sebentar melongo lihat janda bahenol di rumah sebelah. Wal hasil, kardus-kardus bekas itu ringsek ketubruk motor Pak RT. Dan seperti di film-film, si Pak RT melengos saja, langsung sok akrab sama yang punya rumah, tak peduli motornya apalagi sama kardus-kardus bekas itu.

“Antar surat pindah,” kata Pak RT yang lanjut jalan sambil menahan malu.

Sebenarnya tak apa kardus-kardus bekas itu ada di teras, selama tak mengganggu yang lain. Tak mengganggu saudara jauh, tetangga, atau pun tamu yang datang. Toh, masih di dalam pekarangan sendiri. Jadi sebenarnya tak perlu juga dipermasalahkan. Sudah, biarkan usai. Nanti juga hancur kalau sudah saatnya, entah kehujanan atau kerayapan.

Hanya saja, si lelaki ini tetap tak merasa lega. Apa sudah benar yang dilakukannya? Ia selalu saja berpikir begitu. Sudah sesuaikah dengan norma? Atau ajaran agama? Padahal sembahyang pun ia jarang. Kalaupun harus dibiarkan di teras, setidaknya kita kasih alas dan tutup biar anti-hujan dan rayap. Begitu si lelaki berpikir. Sementara perempuannya, ia mencemaskan ruangan dalam rumahnya akan terlalu sempit, namun sebenarnya masih belum tega kalau sewaktu-waktu kardus-kardus bekas itu dipulung orang.

Dan di sore itu semua terjadi. Ketika si perempuan asyik menikmati kola, lelakinya sibuk membawa papan dan plastik ke teras. Untuk menutupi kardus-kardus bekas itu pikirnya. Malang, kardus-kardus bekas itu hilang. Si lelaki yang menyadarinya pertama, tapi mungkin pula perempuannya sudah tahu. Sebenarnya dua-duanya lega, “Hilang juga akhirnya,” kepala mereka beradu kata. Tapi kemudian muncul pertanyaan baru, “Ke mana?”

Bersambung…

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s