Cerita Para Bajingan Jogja

Seperti kebanyakan buku yang saya baca, buku ini pun saya ketahui dari seorang teman yang sudah lebih dulu membacanya. Dia bilang, “Gue bayangin zaman kuliah dulu.” Lantas saya pun menyempatkan diri untuk ke Gramedia. Beli buku ini untuk dibaca.

Puthut E.A., siapakah dia? Ini pertama kali saya baca bukunya. Jadi, saya kosong blong soal penulis ini. Banyak teman pernah menyebut tokoh ini. Yang lain merekomendasikannya untuk satu atau dua mata kuliah dulu semasa di kampus. Tapi saya bergeming, enggak peduli. Sampai saat obrolan bersama teman saya itu.

Lebih tepatnya iseng saja. Karena waktu cukup luang, kenapa tidak dipakai buat baca buku. Daripada merusuh di media sosial yang kadang malah bikin pusing. Baca buku jauh lebih menyenangkan.

yogyakarta_penerbit-dan-percetakan_puthut-ea_aktivitas_2-850x566

 

Oke, kalau tidak tahu Puthut, ada masalah ketika membacanya? Saya kira tidak ada masalah. Pada akhirnya memang saya melakukan riset sederhana lewat internet. Cari tahu siapa si Puthut itu. Tapi itu sekadar tambahan dan kita tak akan bahas tokoh itu di sini. Nanti saja. Sekarang saya mau ngomong soal Para Bajingan yang Menyenangkan. Novel yang ditulis Puthut Desember 2016 lalu. Apa saja sih yang membuat novel ini paling tidak asyik dibaca?

Sebagai catatan, saya baca novel ini subuh-subuh dan berhasil menyelesaikannya cuma dalam waktu 4-5 jam. Buku setebal 177 halaman ini diterbitkan oleh Buku Mojok–sebuah penerbitan buku yang lumayan ngehits di Jogja. Puthut sendiri mempersembahkan buku ini untuk sahabat-sahabatnya yang jadi inspirasi cerita di dalamnya.

“Untuk para sahabatku tercinta. Yang dulu dengan bangga kami menyebut kelompok kami dengan nama Jackpot Society. Plesetan dari Dead Poet Society. Sepenggal waktu bersama mereka begitu berharga dan segala yang ada di kurun waktu itu tumbuh bersama diriku kelak sampai aku mati.”

Begitulah buku itu dipersembahkan Puthut.

Lembut dan romantis sekali si Puthut ini, pikir saya. Ya, uniknya kelembutan dan keromantisannya ditujukan untuk teman-temannya, bukan untuk pasangannya. Ini yang lantas membuat saya terseret asyik membaca buku ini. Saya setuju, tidak semua romantis-romantis itu cuma soal pacar, bini, atau apa pun sebutannya itu. Sama teman bisa juga romantis dan dekat begini. Terutama kalau lagi zaman kuliah.

Bicara keseruan menjadi mahasiswa UGM, buku ini justru memberi gambaran bahwa di kampus elite begitu tidak melulu kerjanya belajar. Waktu luang adalah sahabat yang setia untuk mereka melampiaskan pusingnya pelajaran. Tidak semua mahasiswa UGM itu selalu berbinar matanya dan sudah memiliki tujuan hidup yang jelas. Sebagian (atau malah sebagian besar) dari mereka masih menjadi manusia-manusia tanpa tujuan hidup yang baik. Itulah potret yang diceritakan Puthut dalam novel ini. Selain itu, buku ini benar-benar menggambarkan mereka yang “bajingan” ketika kuliah, entah jarang masuk, mengelabui dosen, sampai penggelapan uang SPP dengan sangat akrab.

Catatan sejarah tetap tertinggal kok dalam novel ini. Maksudnya, meski menceritakan “kekosongan pikiran” mahasiswa UGM, buku ini mencatat dengan baik sudut-sudut sejarah. Misalnya, sepayah apa pun, mereka yang kuliah pada era 90-an tetap akan dekat dengan isu politik dan pergerakan mahasiswa. Kemudian, pencekalan literasi bacaan Lekra tetap disampaikan dengan baik. Menggambarkan bagaimana buku-buku ini dulu sangat susah didapat.

Ada juga catatan-catatan lainnya yang lebih populis. Tidak sekadar ngomong soal literasi atau politik. Mobil Kijang yang booming masa itu misalnya. Lainnya misalnya suka duka jadi anak kos dan pesta miras di kamar kos dengan teman-teman yang ternyata masih relevan sampai kini.

Sudut yang menjadi perhatian saya adalah gundah hati para tokoh yang merupakan mahasiswa atau akademisi bersinggungan dengan masyarakat urban Jogja dan irisan lainnya dengan dunia spiritual kejawen dan Islam. Semuanya dibungkus manis. Buat saya, ini adalah gambaran yang kuat bahwa sebagai manusia kita tidak hitam atau putih. Tidak baik atau jahat. Tidak agamais atau atheis. Dan lain-lain lainnya yang masih banyak dijadikan orang untuk menghakimi yang lain.

Di sini jelas, sebagai manusia, kita dihadapkan banyak hal yang terkadang membuat kita pusing untuk menentukan pilihan. Sebagai mahasiswa kita adalah hamba ilmu pengetahuan, namun tetap tunduk pada norma keluarga dan agamanya. Sebagai akademisi kita adalah putra kebudayaan dan humanisme, tapi sahabat lekat dosa-dosa. Sebagai manusia kita punya pilihan, namun terkadang kita lalai dan takut menjalaninya.

para-bajingan-yang-menyenangkan-front

Seperti dalam buku ini, kuliah adalah masa yang nyaman untuk siapa saja. Bebas berpikir tentang apa saja dan bebas mengkhayal jadi apa saja. Para Bajingan yang Menyenangkan dibagi menjadi tiga bagian oleh Puthut; Kami Tak Ingin Tumbuh Dewasa, Bagor: Setelah Dua Puluh Tahun, dan Seikhlas Kenangan. 

Saya juga enggak akan ngomong plek-plekan isi di dalam ketiga bagian itu. Biarkan! Biar kalian penasaran dan membacanya sendiri. Saya kepingin kalian dapat pengalaman seru membaca, dan untuk kalian yang sempat menikmati masa di kampus, semoga bisa mengenang masa-masa kalian di sana.

Kekuatan dari novel ini justru ada di gaya ngomong Puthut yang santai. Kalau dibayangkan, kita seperti sedang duduk di kantin kampus dan ngobrol sama teman-teman. Bahasa yang digunakan tidak ribet, bahkan kesannya santai. Ditambah balutan “mataraman” yang menimbulkan kesan nostalgia, novel ini disampaikan Puthut dengan apik. Banyak bahasa atau kata yang ditabrak dengan sembrono oleh Puthut. Ia seakan sedang menulis teks curhat lewat hape yang karakternya hampir penuh. Jadi harus irit-irit huruf; enggak apa-apa biasa ditulis gapapa di dalam sini. Ada juga misalnya ora dalam bahasa Jawa yang berarti tidak, ditulis serampangan jadi ra. Banyak lagi lainnya.

Tentu saja yang paling mengasyikan ialah dialektika Jawa yang muncul. Pemakaian kata mlotrok dalam novel ini sangat khas Jawa. Umpatan-umpatan lokal yang sangat jenius dari menggunakan nama hewan sampai alat kelamin manusia jadi hal lokal yang seru betul ditampilkan. Tentu saja kalau kamu seorang Jawa, konteks ini akan semakin ngena dan enak dinikmatinya. Sebab terkadang orang Jawa bisa menciptakan kosakata aneh yang hanya bisa dimengerti sesamanya.

Beralih dari soal bahasa dan gaya yang dipakai, Para Bajingan yang Menyenangkan sebenarnya tidak terlalu banyak memberikan kebaruan soal teknik penulisan sastra. Ya, standar saja alur maju mundur dibumbui katarsis-katarsis yang menciptakan suspens seru bagi yang membaca. Namun, pada akhirnya kita tahu kalau semua tokoh akan baik-baik saja, sebab gaya guyon yang kental itu tidak bisa ditutupi oleh apa saja teknik penulisan yang ada di dunia.

literature-vs-traffic-in-toronto-by-luzinterruptus-lead

Kalau berharap dapat pesan moral atau muncul konsep dulce et utile yang gagah dalam novel ini, Anda akan kecewa. Sederhana saja, novel ini cuma mau bercerita. Soal isi ceritanya mendidik dan menghibur atau enggak, itu soal lain. Buat saya, pesannya cuma satu setelah baca novel ini, nikmati masa muda selagi Anda bisa.

Saya lantas menduga buku ini merupakan memo perjalanan untuk mereka yang menjadi inspirasi cerita di dalamnya. Sukses besar kalau begitu. Di dalam buku ini, segala kejadian yang dimunculkan memang kejadian yang berkesan. Mungkin karena itu nuansa nostalgia dalam buku ini sangat kental. Anda yang tidak pernah ke Jogja, bahkan akan dengan mudah untuk mendapat gambaran tentang sudut-sudut kota dan realita sosial di sana.

Menjual kenangan memang mengasyikan, sebab semua orang bahagia hidup di dalamnya. Ketimbang pusing menghadapi hari ini dan masa depan. Kenangan atau memo adalah pelarian yang aman. Itu sepertinya rahasia Puthut. Klasik memang mengangkat tema anak muda dari sudut pandang nostalgia, tapi ia berhasil. Sebab rapi!

Pada akhirnya bagi pembaca remaja, mungkin UGM akan jadi favorit baru buat tempat kuliah. Tentu saja kalau kamu suka hal-hal yang berbau kebebasan. Tidak lagi berkesan sebagai kampus yang melulu serius. Tidak lagi juga berkesan sebagai tempatnya orang dengan masa depan jelas.

Bacalah untuk bersenang-senang. Tak usah mencari yang tak ada.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s