Membaca Wayang

Saya bukan penonton wayang dari awal. Wayang muncul dengan porsi besar dalam hidup saya ketika saya kuliah. Sebelumnya, dari lahir sampai lulus sekolah menengah, mungkin bisa dihitung jari berapa kali saya menonton wayang. Ketika kuliah pun sebenarnya tidak terlalu banyak pertunjukan wayang yang saya tonton. Hanya saja, intensitas membacanya yang memang mengalami peningkatan.

Akan saya mulai dulu dengan mengapa membaca wayang? Ketika belum kuliah, buat saya membaca wayang adalah pekerjaan kuno. Tidak keren dan mentereng. Selain juga karena tidak cukup literatur yang sampai ke saya. Paling banter cerita stensil komik Tatang S. yang pakai tokoh Petruk di dalamnya. Selebihnya ya tidak ada.

Mengenaskan bukan? Ah, mungkin kalian belum paham. Saya ini dilahirkan di keluarga Jawa. Seharusnya dekat dengan budaya Wayang. Seharusnya dekat dengan kesenian yang katanya milik orang Jawa. Selain dari keluarga Jawa, saya pun tinggal di Jawa. Di kampung terpencil pula. Sudah seharusnya yang ditonton dan dinikmati adalah wayang.

Nah, jadi paham kan sekarang? Mengenaskan! Budaya yang oleh para akademisi (setelah saya tahu ketika kuliah) diagung-agungkan dan selalu dianggap milik Jawa ini nyatanya enggak lagi berbudaya di Jawa. Ya, memang sample yang dipakai diri saya sendiri. Tapi paling tidak, saya dan teman sejawat ketika masih di kampung mengalami atau memiliki pengetahuan yang sama soal budaya wayang ini. Apa itu?

Wayang cuma milik orang kaya. Milik mereka yang punya duit untuk nanggap ketika menikahkan anaknya. Selebihnya paling saat karang taruna benar-benar niat bikin acara pas malam tujuh belasan. Tidak lebih dari itu. Wayang bagi kami tidak begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari. Mungkin lebih dekat dangdut dibandingkan wayang.

Apalagi ketika pak kyai di kampung kami memakruhkan pertunjukan wayang entah dengan alasan apa. Saya lupa. Dan untuk orang kampung, selain yang halal berarti itu adalah haram. Tak ada kata makruh, mubah, dan lain-lainnya. Jadi, ketika ada pesta pernikahan, tidak ada lagi suara gamelan dan ocehan dalang sepanjang malam. Bubar!

banner-top-wayang-kulit-shadow

Oke, kembali ke awal. Mengapa saya akhirnya membaca wayang ketika kuliah? Tentu saja karena tuntutan tugas kuliah. Ini satu hal yang hakiki dan tidak terbantahkan. Tak ada timbul cinta apa lagi bisa memilih salah satu tokohnya sebagai kesukaan. Yang ada hanya beban karena tugas tak kunjung selesai.

Akan tetapi, rupanya dari situlah cinta bersemi. Seperti kata pepatah Jawa witing tresno jalaran soko kulino, suka dan cinta kemudian datang ke dalam hati saya. Kisah kepahlawanan Anoman, sejatinya manusia dalam tokoh Wibisana, cinta terhadap negeri yang ditunjukkan Kumbakarana, menjalani darma sesuai tuntunan Pandawa, dan hal-hal baik lainnya menyatu dari kepala ke hati saya.

Sayangnya, saya juga cuma manusia biasa. Terlanjur dibesarkan dengan budaya sekolah dan logika barat. Seperti petuah filsuf terkemukanya, “Aku berpikir maka aku ada.” Begitu pada akhirnya saya bersikap. Apalagi karena sudah lebih dulu film-film dan cerita-cerita barat mengental di hati dan pikiran saya. Lantas jadinya cintaku kepada wayang hanya sekadar kata-kata, tak berakhir jadi darma yang harus senantiasa dipenuhi manusia Jawa.

Ini belum apa-apa. Biarpun hanya kata, saya berusaha terus setia. Kenapa begitu? Saya sendiri merasa terasing jiwanya jika tidak mengetahui kisah-kisah Ramayana dan Mahabarata dengan baik. Sebab, puji Tuhan saya tetap orang Jawa. Biarpun dari ujung kaki sampai kepala, dari dalam sampai ke luar sedikit saja yang mencirikan itu. Tapi saya orang Jawa pada akhirnya.

Kesetiaan ini rupanya memikul dendam. Pada akhirnya saya berpihak. Sayangnya, bukan kepada Pandawa atau Sri Rama keberpihakan itu. Dengan logika jelas dan kebarat-baratan, saya melihat rasa cinta yang luhur dalam diri Dasamuka. Sebab penuh kritik dalam kepala saya, benci betul saya terhadap Puntadewa. Sampai pada akhirnya, saya benci yang berkuasa. Para pembuat masalah.

Iya, pada akhirnya saya berpihak kepada yang kecil. Mereka rakyat yang tak tercatat kitab-kitab istana. Dan sebagai orang Jawa, yang saya maksud dengan rakyat tentu saya mereka Punakawan. Mereka adalah Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong. Dalam ceritanya, kehadiran mereka adalah kunci keberhasilan tuannya. Semar sang jelmaan Ismaya selalu menerangi Pandawa ketika melenceng. Beserta ketiga anaknya, Semar selalu menemani Pandawa.

160-amor-sabiduria1

Lantas saya berpikir, bukankah sang dalang dan pencerita ini keterlaluan. Dari semua tokoh, pada akhirnya yang paling menderita adalah Togog, Bilung, Limbuk, dan Cangik. Ya, mereka adalah sisi sebelah Punakawan. Jika Punakawan merupakan abdi dan rakyat Pandawa, Togog, Bilung, Limbuk, dan Cangik adalah budak para Kurawa. Di antara semuanya, akhirnya saya menaruh simpatik kepada Togog. Sebab, dialah yang tertua.

Togog adalah Antaga yang kalah lomba bersama Ismaya dan Manikmaya. Iseng betul Batara Wenang membuat perlombaan buat ketiga anaknya. Bukan main, perlombaannya pun menelan gunung. Coba bayangkan sendiri ya! Antaga tertua dan Ismaya yang kedua gagal. Mereka diturunkan ke bumi. Sementaya Manikmaya yang paling muda, ditunjuk jadi penguasa angkasa. Entah dia sempat berusaha menelan gunung atau sudah terlanjur dihentikan bapaknya.

Peristiwa ini juga yang lantas membuat saya tersayat-sayat. Bahkan sejak awal penceritaaanya, wayang sudah tak setia. Tentu semua tahu, takhta angkasa harusnya jatuh kepada Togog sang anak laki-laki tertua. Namun dengan liciknya, Batara Wenang membuat Manikmaya naik takhta. Apatah adil cerita begini, sementara darma yang diagungkan dalam cerita ini membuat orang Jawa patuh seperti kerbau dicucuk hidungnya?

Togog, buat saya tokoh ini bukan hanya guyonan. Seperti Semar yang memiliki kedalaman berpikir dengan oportunitas tinggi, Togog memiliki kontemplasi mendalam dalam menjalankan misinya memelihara Kurawa. Didengar bukan selalu jadi tujuan utama. Tak seperti Semar yang selalu berhasil membuat Pandawa manggut-manggut kepala mendengar petuah bijaknya, Togog punya cara berbeda membesarkan tuannya.

Togog mengerti bahwa hidup itu luka. Bahkan takhta yang seharusnya jadi haknya harus direlakan demi Manikmaya yang manja. Begitu pula ketika berbicara kepada Duryudana, Togog menyampaikan realita. Urusan pilihan mana yang mau diambil oleh Duryudana, Togog tak ambil pusing. Karena ia paham, Kurawa adalah anak yang kuat. Tak memble dan menye-menye seperti Pandawa.

Hidup juga bukan sekadar menjalankan darma, tapi juga hasrat. Togog menceritakan ketika semua orang menertawakannya lantaran mulutnya yang sobek kepada Kurawa. Tapi lantas karena itu juga ia belajar, bahwa tertawa adalah kekalahan dan kemenangan hanya bisa didapatkan dengan berjuang sampai mati.

collectie_tropenmuseum_achterglasschildering_clown_togog_in_javaanse_kalligrafie_tmnr_6148-9

Kalau pada akhirnya Kurawa memilih Baratayudha, itu bukan kehendak Togog. Togog sudah mengingatkan. Tapi putra Destrarata juga laki-laki dewasa yang mengerti mengambil keputusan. Dengan perhitungan matematis dan nilai ekonomi, Baratayudha memang harus terjadi. Bukan sekadar dianggap gagah-gagahan Kurawa oleh Pandawa.

Ya, Pandawa hanya bisa nyinyir. Sebab, mereka itu manja. Yang setiap hari hatinya dibesar-besarkan oleh Semar. Padahal dunia nyata tak sebagus cerita dongeng yang mereka dengar. Hadapi kenyataan! Raih rakyatmu dan berjuanglah untuk mereka. Itu yang ditanamkan Togog kepada Kurawa. Bukan sekadar memikirkan selangkangan Drupadi atau adu harga diri di meja judi. Puntadewa malang!

Andai saja Togog tak ada, tentu Baratayudha tak akan terjadi. Namun, sebagai gantinya akan ada malapetaka lebih besar. Sebab Togog tak menyarankan yang benar. Saran itu bukan perintah, sebab rajanya tetap Duryudana. Hayo, siapa yang tak menjalani darma kalau Semar berani-beraninya menyuruh-nyuruh junjungannya?

Dan seperti layaknya kesatria sejati, tugas dan baktinya bukan untuk dipuji, melainkan diuji. Dan Togog selalu berhasil melewati ujian itu. Tanpa perlu surat kabar atau woro-woro di media sosial. Sebab bagi Togog, ia tak perlu izin dewata. Sebab bagi Togog, dunia hanya sebuah hadiah perlombaan. Yang diberikan bapaknya kepada adik bungsunya.

Togog sudah mendapat yang lebih dari itu.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s