Biarkan Aku Tertawa

Waktu memang bukan sahabat yang baik. Itu sebabnya kita selalu diburu-buru. Entah kenapa, sejak dulu sampai kini, tak juga selesai masalahku dengan waktu. Apa pernah aku berdosa kian besar kepadanya, sampai-sampai tak dibiarkannya aku lega sedikit? Tak dibiarkannya aku tertawa sebentar.

Kalau memang kau masih sayang padaku, atau setidaknya kau masih kasihan kepadaku, tolong untuk sekali ini saja jangan cegah kemauanku. Sederhana saja sebenarnya, tak banyak pula mauku, aku mau kau beri aku sedikit waktu untuk menyandarkan diri di tiang-tiang dermaga sana.

hdwallpaper
Koleksi Hdwallpaper

Aku tau, siang sudah mulai datang. Kita harus bergegas, jangan lantas ketinggalan kapal dan lupa nanti sore makan apa. Aku paham, kita ini orang kecil. Menikmati kegembiraan cukup kecil saja juga. Katamu. Aku juga tahu, ikan tak akan datang tiba-tiba ke dapur-dapur mereka yang tak berusaha. Ikan hanya akan datang kepada mereka yang keringatnya lelah diperas matahari dan tulangnya meringkik dikerat angin malam. Hanya saja, biarkan aku sejenak memandangi laut lepas itu dari tiang dermaga sana.

Jika memang tak juga mendatangkan keputusan, mari kita ambil kesepakatan mulai dari sini. Jalan kadang menikung, meninggalkan sayap dan bisa jadi terjerumus. Aku dan kau bisa bersama sampai kini, itu anugerah Tuhan. Jika Tuhan berkehendak pula jalan kita akan dipertemukan kelak. Tapi kini, untuk siang ini, kita buat kesepakatan yang menyakitkan saja. Aku dan kau berakhir di antara impitan-impitan ego dan rasa lapar.

Kau akan menari dengan laut. Di lepas pantai sana, kapalmu akan dialun oleh ombak-ombak. Camar riang melihatmu berdendang. Kau sendiri akan begitu tenang menanggalkan gelisah dan rasa lapar. Aku yakin masih akan tersisa sedikit ego pada akhirinya. Dan pada kasusmu, egomu tinggi untuk dinikmati camar dan ombak. Kau memang hendak jadi penari laut.

Sementara aku, aku ingin terjebak. Masuk begitu dalam kepada nyanyian-nyanyian dunia. Aku mau hilang dalam pusaran. Aku mau menitis kepada dunia. Pergi ke kota menikmati senjanya di sana, yang kata orang tak akan pernah lebih indah dari senja milik kita. Aku tahu, aku sepakat juga mestinya. Namun hariku bukan di sini. Di sana aku akan tenggelam bersama musik-musik ceria. Lambang modernitas dan hidup serba canggih. Aku akan melupakan samudra, melupakan ombak, melupakan kau. Sebab aku ingin menikmati segalanya. Menikmati anugerah Tuhan pada orang-orang sesak napas.

Kau akan duduk di teras rumah kita menjelang sore. Menikmati sisa kinang yang tak habis kau kunyah menjelang siang tadi. Mungkin sudah sedikit dingin, sebab ini musim kemarau, kau akan kenakan jaket kesukaanmu dan meringkuk di balik selimut garis-garis yang dimiliki semua nelayan. Seperti biasa kau akan menikmati senja yang muncul di samudra. Anak-anak kecil milik para tetangga pasti segera datang kalau kau sudah begini. Mereka ingin kau bercerita. Tentang apa saja di samudra sana. Laut lepas yang seharian kau kalahkan. Dan kau akan mulai cerita, sebab itu kesukaanmu. Kau akan mulai dengan menanyakan kepada anak-anak itu pernahkan mereka melihat hiu. Mereka akan jawab tidak, dan kau segera lancar bercerita tentang pertemuanmu dengan hiu, lantas ikan-ikan lain. Pertanyaan yang sama.

vibiznews
Koleksi Vibiznews

Mengembang jiwaku menyaksikan gedung pencakar ini. Anginnya yang dahsyat, sebentar saja sudah mengempaskanku. Apa maha besar kuasanya? Pasti banyak ilmu dimamahnya sebelum jadi sebesar ini. Aku penasaran jadinya. Aku sudah lari jauh untuk sampai sini, tak akan henti hanya karena omong kosong. Permintaanku sedikit saja, aku ingin jibaku dengan gedung pencakar. Mengalihkan semua ilmu darinya kepadaku. Mengalahkan omong kosong majikan kepada pembantu.

Kita ambil kesepakatan sekarang. Sebab waktu juga tak memberi kita ruang. Dia sekadar jadi pelacur kolong jembatan. Menunggu nasibnya tiba. Tak begitu dengan kita. Kita bisa bersepakat. Kau mau menikmati laut dan ombak. Aku hendak berlari dan tersesat. Bukankah indah? Kita merayakan perbedaan. Merayakan alamat hakiki kita sebagai manusia.

nusantaride
Koleksi Nusantaride

Maka jangan kau cegah. Biarkan ini semua berjalan sebagaimana mestinya. Diiringi nyanyian alam yang merindukan keajaiban, kita akan mulai berjalan pada orbit masing-masing. Janji? Maukah kau? Sementara masa depan hanya kabut peristiwa saja. Aku mau menangkap pagi. Aku mau bernyanyi. Aku mau menikam senja. Karena itu, sebab kita tau waktu yang lacur, kita bikin kesepakatan ini. Sejenak saja untuk tertawa.

Dan sayangku, kesepakatan ini kita buat atas nama cinta. Berlandaskan logika yang nyatanya begitu sungkan mampir kepada kita. Namun, waktu sebentar membimbingnya kepada kita. Supaya lekas hidup kita menjadi jelas. Tentu jelas untuk hari ini. Karena masa depan hanya kabut peristiwa saja. Dan sayangku, aku dengan yakin meninggalkanmu kini. Bila kapalmu sudah hendak bersandar, dan sore benar sudah menjelang. Semoga aku berani menjemputmu di tepi dermaga itu.

Kukusan, Tahun Baru Cina 2016

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s