Dunia Lain di Luar

Pagi hendak saja mau mulai, sedang bagiku lelah sekali menemani hari. Saya sendiri sadar bahwa hari ini Sabtu, yang biasanya, bagi kebanyakan orang, adalah saatnya kita tidur. Sepertinya, sekadar untuk melepaskan lelah dari kerja yang rasanya tak pernah usai itu. Tak berlaku buatku rupanya hari seperti itu.

“Sudah lama juga saya tak cerita padamu, Emma,” Nakhoda Kapal berbicara pada laut.

transpressnz.blogspot

Kerja memang bukan tempat sembarang. Di sana banyak dari jiwamu yang akan habis. Mungkin ada juga yang sampai tak bersisa. Saya sudah rasakan itu dulu, sampai kini bahkan. Dan sepertinya, pada camar-camar atau lumba-lumba saja kita menaruh bahagia. Sebab mereka kadang lewat menyapa, memberi kabar tentang dunia lain di luar seberang sana. Kepada kami yang selalu tinggal di ayunan ombak yang terkadang mahadasyat manjanya, mereka akan bercerita tentang anak perempuan yang sudah saja dewasa, tentang kekasih yang tak lagi tegar menanti kekasihnya pulang, juga jalanan dan aspal yang menganga mencari korban, atau masa depan Allah yang diduga-duga dewata. Nakhoda selalu senang dengan cerita-cerita dari mereka.

“Kukira kamu akan paham juga kepada situasiku. Geladak, kelasi, dan buritan bukan hal mudah dibersihkan. Juga para dewasa yang susah sekali menyudahi kebiasaan buruk mereka, menambah saja beban tanggungku. Emma, sampai aku penasaran. Kamu sedang apa?”

Emma adalah kekasihnya dulu. Sudah tujuh tahun mereka berjanji sebagai kekasih. Yang kata para dukun pohon, nikmat tiada tara itu, tak akan pernah dipisahkan gelombang laut mana saja janji itu. Jauh dari Emma dan juga bau sesap dan tanah, kepada camar ia titip rindu, sedang lumba-lumba selalu gambarkan Emma ada di dermaga sana, di sebuah kota teluk jauh, menunggunya pulang.

Tapi dukun pohon itu tak pernah benar-benar bisa menggambarkan takdir. Pada bulan kelima Nakhoda Kapal di laut lepas, Emma mati setelah enggan menerima pinangan dari sahabat Ayahnya. Demi cinta kata sastra. Matinya minum racun tikus kelas satu. Di dermaga sana ia senyap menanti. Sampai kini masih, kata orang.

Lumba-lumba akhirnya memberi kabar duka. Nakhoda Kapal menatap marah pada langit malam. Matahari berpantulan sinarnya, sama berkaca dengan mata Nakhoda Kapal. Jangan sampai lupa, duka adalah sahabat bahagia mereka yang mencintai laut. Kabarnya, bujang dari selatan pernah merana sendiri mencerna makna gelombang ombak. Sudahnya mati gantung diri di pancang besar kapalnya.

Tapi Nakhoda insaf. Ia hanya perlu memandang langit yang cerah. Kepadanya langit membawa segala pertanda langit. Sebab, sayang Emma padanya tak akan terputus. Emma adalah gambar keteguhan laut.

voices.onthewight

“Emma, saya harus pulang. Kamu juga harus ke sana. Di jalan dan kisah yang berbeda. Semoga kamu akan bahagia,” kali ini Nakhoda Kapal sama sekali tak memandang balik pada langit biru hari tua.

Ia sudah akan pulang. Di buritan dan kelasi ia menghela depa demi depa. Apa yang dicari Nakhoda di luar sana? Di sini, dari deru sakit yang menusuk, jaring sudah di angkat naik ke kapal. Tambat juga iya.

“Emma, saya pulang, sayang…”

Kukusan, 13 September 2015

Foto 1: transpressnz.blogspot.com

Foto 2: voices.onthewight.com

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s