Saya Pernah Tahu Dia dengan Wajah dan Nama yang Lain

Memang pagi ini tak seperti biasa. Saya bangun pagi, tak biasa juga. Tak biasa pula langsung memeriksa beberapa buku yang sempat tercecer dan sekali waktu dibereskan teman ke tempatnya yang benar. Malu sedikit rasanya sebab buku berserakan banyak yang tak selesai kubaca. Maka itu, pagi ini entah kenapa rasanya ingin sekali menyelesaikan yang dulu pernah kumulai. Ini masih tentang buku lho ya. Hehehe

Dari sisa buku yang tak kunjung selesai dibaca, akhirnya mataku tertuju kepada sebuah buku yang sejak sekolah menengah atas ingin saya baca. Buku yang hanya kutahu dari namanya saja. Banyak diceritakan oleh guru bahasa Indonesiaku dulu. Judulnya Kritikus Adinan. Ini buku karya Budi Darma, penulis yang juga idola saya sejak dulu. Saya juga pernah baca buku Budi Darma yang lain. Kuingat salah satunya Laki-laki Lain dalam Secarik Surat, di samping juga buku lainnya. Dua judul ini menjadi penting hari ini.

jurnalfootage.netFoto: Jurnalfootage.net

Dalam sebuah situs berbagi buku, Goodreads.com, penjelasan mengenai kedua buku tersebut rupanya sama. “Buku ini merupakan perwujudan obsesi kepengarangan Budi Darma. Di dalamnya akan ditemukan kisah-kisah tentang manusia lengkap dengan konflik mereka saat berinteraksi dengan dunia di sekelilingnya maupun dengan dirinya sendiri.

Tokoh-tokoh Budi Darma dalam buku ini adalah manusia yang ganjil, terkadang keji, dan cenderung asosial. Namun, di sisi lain, mereka juga bisa menjadi begitu naif, baik hati, dan jujur. Dengan gaya bertuturnya yang lembut, tapi penuh kejutan, Budi Darma akan membawa kita ke dalam permenungan mendalam tentang manusia dan kemanusiaan.

Pernah diterbitkan dengan judul Kritikus Adinan.”

Membaca penjelasan ini tentu saja saya kaget. Karena itu, kucari-cari juga buku Laki-laki Lain dalam Secarik Surat yang pernah kubaca. Mencocokannya satu dan yang satu lagi. Dari sana saya baru yakin kalau ternyata kedua buku tersebut merupakan buku yang sama. Hanya saja diterbitkan dalam dua judul yang berbeda. Kritikus Adinan terbit tahun 2002, sementara Laki-laki Lain dalam Secarik Surat pada 2008. Keduanya diterbitkan oleh Bentang Pustaka.

1653472

Sebenarnya juga, ini cuma perkara remeh. Sebuah bundel naskah yang diterbitkan dengan sebuah judul dan ilustrasi sampul muka kemudian terbit ulang dengan judul dan sampul muka yang berbeda. Apa salah? Ya, tentu saja tidak ada salahnya. Terlebih, keduanya muncul dari penerbit yang sama.

Lalu saya tergelitik juga rupanya. Sebab, saya mementingkan rasa. Bagi saya, yang sudah lama mendengar Kritikus Adinan, buku itu sudah menjadi ekspektasi untuk dituntaskan dengan ritus yang lebay suatu saat nanti. Mendengar atau menyebut Kritikus Adinan membuat saya merasa seperti rindu kepada seorang mantan kekasih yang sudah terpisah lama.

Lalu dengan tidak sengaja saya membaca Laki-laki Lain dalam Secarik Surat. Kubaca dengan biasa saja, dalam keadaan biasa saja. Kubaca dengan ritus biasa juga. Tanpa sengaja, sekadar mengisi waktu luang. Lalu ternyata komentar yang muncul setelah membacanya pun biasa saja. Sebab, mungkin saya tak pernah telalu memahami jalan pikiran Budi Darma.

5708577

Akhirnya rasa saya benar-benar nelangsa. Kenapa? Pertama, ekspektasi saya terhadap buku yang sudah sejak lama ingin kubaca tiba-tiba saja puuuft hilang begitu saja. Kedua, setelah tahu dua judul buku itu merupakan satu buku yang sama, ada semacam kekecewaan mengapa saya harus membaca Laki-laki Lain dalam Secarik Surat terlebih dahulu sebelum mendapatkan buku Kritikus Adinan. Ini, sih, nasib! Ketiga, kurasa semua sepakat sampul muka Kritikus Adinan lebih baik dalam mengesankan isi ketimbang Laki-laki Lain dalam Secarik Surat. Ini juga merupakan kekecewaan saya (terutama kepada pilihan penerbit). Mungkin saja pendapat saya akan berbeda ketika membaca buku ini dengan sampul muka Kritikus Adinan. Keempat, omong-omong soal penerbit, saya jadi penasaran alasan buku ini diterbitulangkan dengan judul yang berbeda. Kalau cetakan selanjutnya dalam sebuah penerbitan menggunakan sampul muka yang berbeda, itu wajar menurut saya. Nah, saya lalu bertanya-tanya selain judul buku Budi Darma ini dan naskah-naskah drama yang muncul pada masa pendudukan Jepang (contoh: Kisah Dua Kota menjadi Taufan Diatas Asia atau Insan Kamil menjadi Manusia Sempurna) adakah karya sastra lain yang memiliki kemiripan nasib seperti ini?

Saya sendiri merasa tertarik akan hal ini. Seperti tadi saya katakan, atas dasar apa dan keputusan siapa (pengarang, penerbit, atau pihak lain) karya ini bisa berubah identitas? Dalam masa pendudukan Jepang, terkadang sebuah karya sastra atau seni yang lain diubah judul, bahkan isi, sebab ada kepentingan Jepang yang harus dipropagandakan. Ada semacam lembaga sensor sastra yang menyebabkan pengarang atau seniman tak punya kuasa atas karya-karya yang dipunyainya pada waktu itu. Sementara, penerbit pada masa itu benar-benar lebih tak ada daya. Bagaimana dengan kasus yang muncul di masa sekarang ini? Hmmm… Ya, biarlah jadi pertanyaan dulu saja sekarang. Semoga nanti bisa disambung dengan jawabannya.

Ya, sebenarnya ini memang perkara remeh. Apa boleh buat sebab pagi ini memang tak biasa. Karena itu, baiknya jangan ditanggapi dengan tak biasa pula.

Dua foto terakhir diambil dari Goodread.com

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s