Piawai Menghadapi Keadaan

11329975_10203141143889607_1504084905323283761_nFoto: Teater Pagupon

Masalah cinta memang tidak akan pernah ada akhirnya. Sejak zaman Romeo dan Juliet sampai masa Rangga dan Cinta, orang masih saja bicara soal cinta. Sekarang pun masih. Tidakkah cinta sebenarnya membosankan? Bukankah sebenarnya cinta hanya bumbu saja, sedang hidangan utamanya adalah soal hidup yang lainnya?

Lepas magrib di ujung Mei 2015, Teater Pagupon menyuguhkan pentasnya yang ke-91. Hari Selasa tanggal 26 pukul 19.00 WIB tepatnya. Pertunjukan diadakan di Auditorium Gedung 9, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia. Dalam pentasnya kali ini, Teater Pagupon membawakan Sayang Ada Orang Lain.

Sayang Ada Orang Lain merupakan karya Utuy Tantang Sontani. Utuy lahir di Cianjur, 1 Mei 1920. Sebagai pengarang ia pertama-tama dikenal dengan novelnya Tambera yang terbit pada 1948. Berakhirnya penjajahan Belanda dan Jepang kemudian melahirkan revolusi kemerdekaan di Indonesia. Karya-karya Utuy pun mencerminkan semangat kemerdekaan. Termasuk salah satunya dalam karya Sayang Ada Orang Lain.

Pada Oktober 1965, Utuy menghadiri perayaan 1 Oktober di Beijing atas undangan Pemerintah Tiongkok. Peristiwa G30S PKI di Indonesia membuatnya terlunta-lunta selama di Tiongkok. Yang kemudian membawanya kepada sebuah perjalanan panjang sebagai “pengarang yang kehilangan rumah”. Tahun 1971 Utuy memutuskan hijrah ke Rusia. Karya Utuy memang sudah dikenal kalangan kampus Rusia. Maka itu, tidak susah buatnya untuk menetap di Moskwa. Hingga wafatnya tahun 1979, di Moskwa, Utuy dikenal oleh kalangan akademis Negeri Beruang Merah sebagai sastrawan besar dengan karyanya Bunga Rumah Makan, Awal dan Mira, Sayang Ada Orang Lain, Di Langit Ada Bintang, Tak Pernah Menjadi Tua, dan lain-lain.

Sayang Ada Orang Lain bercerita tentang Suminta dan Mini. Suminta dan Mini, sepasang suami istri yang hidup serba kekurangan tetapi bahagia lantaran hidup mereka dinaungi oleh cinta. Namun, untuk hidup mereka tak dapat hanya mengandalkan cinta. Semakin lama keadaan ekonomi semakin mendesak, utang pun menjamur di mana-mana. Oleh karena cintanya yang amat besar, diam-diam Mini membantu Suminta mencari uang dengan dibantu oleh Hamid dan Badrun. Hamid dan Badrun memberi jalan pintas untuk Mini mendapatkan uang, jalan yang bagi sebagian besar orang merupakan sebuah perbuatan dosa. Bu Haji Salim yang memergoki perbuatan tersebut, lantas melaporkannya kepada Suminta. Setelah mendengar kabar tersebut, Suminta pun merasa langit runtuh menimpa dirinya. Sakit hati dan kecewanya semakin meradang mengingat Hamid dan Badrun yang merupakan kawan baiknya, memiliki andil besar dalam kejadian yang melumpuhkannya. Pertengkaran menimpa sepasang suami istri tersebut dengan hebatnya. Berbagai kebenaran tarik-menarik di dalam kepala Suminta. Semua kejadian sungguh membingungkannya; tentang kebenaran siapa yang mesti diterimanya. – Teater Pagupon.

Teater Pagupon malam itu menginterpretasikan karya Utuy menjadi sebuah pementasan komedi realis. Interpretasi ini buat saya sangat menarik. Sebab, cerita cinta yang sebenarnya merupakan sebuah tragedi, digubah menjadi karya menyegarkan tanpa kehilangan sisi tragedinya. Seperti dua sisi mata uang, nilai realis dan komedi dalam pementasan tersebut sangat kental. Komedi sendiri merupakan salah satu genre yang tidak mudah. Memainkan cerita komedi harus piawai dalam banyak aspek.

 

Tokoh Lupa Ingatan

10478994_10203131730654282_3177233092022688490_nFoto: Teater Pagupon

Menjadi aktor atau aktris memang terlihat mudah. Paradigma demikian ada terutama di kampus yang tak memiliki tradisi mata kuliah akting di dalamnya. Namun, apakah benar berakting itu mudah?

Teater Pagupon yang membawakan naskah Sayang Ada Orang Lain nyatanya masih awam dalam hal seni peran. Terutama jika dinilai dari aktor dan aktrisnya. Pementasan sore itu dimainkan oleh mahasiswa tingkat satu dan dua serta beberapa tingkat akhir dan alumni. dengan adanya perbedaan tingkat tersebut, yang tentu berpengaruh kepada kecakapannya dalam berakting, nyatanya tak menjamin kemampuan akting seseorang menular dan meningkat.

Pemeran Suminta misalnya, tokoh yang seharusnya diperankan menjadi laki-laki kalah dan pemalas, terkadang “lupa ingatan”. Maksudnya, aktor tersebut terkadang suka tak menjadi Suminta. Juga Mini, yang beberapa kegagapannya terlihat jelas dari penonton sampai lupa menjadi Mini.

Akan tetapi bagi saya, keganjilan malah muncul pada tokoh-tokoh sampingan yang hanya keluar beberapa saat saja. Ketika membawakan naskah komedi realis, tokoh-tokoh demikian selalu saja tampil menjadi tokoh stereotipe. Rombongan ibu-ibu pengajian selalu bergosip dan tertawa keras-keras, tukang obat selalu terlalu banyak kata, tukang jamu yang selalu Jawa, atau tetangga kaya yang tampil cerewet. Ini mungkin saja disesuaikan dengan alur cerita. Namun, saya melihatnya sebagai kecenderungan tak bisa lepas dari stereotipe. Lepas dari hal itu, bagi saya hanya tokoh tukang salon yang memberikan hiburan cukup menyolok, meski tampil hanya tak kurang dari 4 menit. Selera humornya boleh juga.

Seandainya ada pengamat seni pertunjukan yang lumayan serius, tentu elemen kesalahan dasar, misalnya teknik vokal, artikulasi, dan gesture, mungkin akan menjadi pekerjaan rumah buat Teater Pagupon.

Saya sendiri berpendapat, menjadi seorang aktor butuh kedisiplinan dan sensitivitas tinggi. Kedisiplinan soal waktu, misalnya disiplin dalam menjalani latihan, istirahat, serta menjalani aktivitas lain. Seorang pemeran harus disiplin juga dalam mengembangkan tokoh dan karakter yang akan dibawakannya. Selain itu juga sensitif. Sensitivitas untuk memahami tokoh dan karakter menjadi hal penting bagi pada pemain. Sebab, tanpa memiliki sensitivitas seorang aktor hanya akan menjadi robot atau bengong di atas panggung. Sensitif yang saya maksud adalah kesadaran bahwa ia memerankan tokoh. Sadar akan membuat peran-peran yang dimainkan tak hambar atau kosong karena ketiadaan referensi.

Pada akhirnya, seorang aktor atau aktris akan bergantung kepada satu hal saja. Rasa yang muncul di antara para aktor dan aktris tersebut. Rasa yang akan melahirkan kesadaran keberadaan seorang aktor dan tokoh di atas panggung. Rasa yang akan membentuk teknik vokal, artikulasi, dan gesture dengan sangat alamiah.

Kuping dan Mata Pecah

11012545_10203131741654557_7118714101238998714_nFoto: Teater Pagupon

Tak bisa dimungkiri bahwa gedung atau tempat pertunjukan merupakan salah satu faktor penting di luar kesiapan aktor. Yang saya maksud ialah gedung pertunjukan yang layak buat sebuah pertunjukan.

Memang, bisa saja sebuah kelompok berpentas di luar kebiasaan. Misalnya, tampil di arena yang tak seharusnya digunakan sebagai tempat pementasan, misalnya lapangan atau pusat perbelanjaan. Tentu ini konsep lain yang sudah memiliki persiapan tersendiri dalam menghadapi kondisi venue tersebut.

Saya ingin menggambarkan keadaan ketika persiapan untuk tampil di sebuah gedung pertunjukan. Di Indonesia, selain institut seni, susah sekali menemukan kampus yang memiliki fasilitas seni pertunjukan yang layak. Jika tidak arena terbuka, hanya akan ada auditorium yang pada dasarnya tidak diperuntukkan seni pertunjukan (teater). Kampus Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia juga demikian.

Dengan keadaan gedung yang kurang layak, Teater Pagupon kemarin mencoba mengakalinya. Dalam gedung pertunjukan tersebut terlihat sekali instalasi kabel dan tata suara yang dipasang nomad. Menandakan bahwa ini bukan in prepare dari gedung. Ini hal yang sangat terlihat dalam dunia pertunjukan kampus pada umumnya. Jika pun para penampil sudah lunas dalam mempersiapkan diri, halangan malah muncul dari sisi teknis untuk mencapai kesempurnaan pertunjukan.

Beberapa cahaya yang bocor dan bermasalah serta tata suara yang terkadang terganggu masalah teknis merupakan catatan terbesar untuk pementasan Teater Pagupon kemarin. Kalau saja masalah teknis dapat dilalui, tentu akan lebih baik. Namun, usaha untuk menaklukkan gedung tentu saja harus dihargai. Hanya sayang jika bermasalah, suara dan cahaya jadi pecah. Demikian pula dengan kuping dan mata penonton.

Saya sendiri berpendapat, kelompok seni di kampus perlu sekali dua kali untuk mendapatkan pengalaman tampil di gedung pertunjukan yang layak. Bukan untuk bergaya, namun sekadar mendapatkan pengalaman untuk menggunakan fasilitas gedung pertunjukan yang baik. Sebab, dengan adanya pengalaman tersebut, seorang penggerak seni kampus akan mampu mengaplikasikan pengalamannya ketika kembali menggunakan gedung kampus yang tak layak. Atau, dengan pengalaman itu ia akan semakin serius untuk mendalami dunia seni dan bisa menjadi praktisi seni profesional. Memang untuk mendapatkan pengalaman itu kendala besarnya adalah dukungan dana yang ada, baik dari pihak kampus atau sponsor yang bersedia membantu sebuah kelompok seni. Namun, selama masih ada semangat untuk lebih baik, saya rasa semua permasalahan itu ada jalan keluarnya.

Well, di luar itu semua, selamat buat Teater Pagupon, Cai (sutradara), dan teman-teman di produksi ke-91. Nanti jumpa lagi, ya, di pementasan ke-92. Selalu ditunggu karyamu selanjutnya.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s