Lelaki yang Mengubah Jalan Hidupnya Lantaran Mimpi*

Iwan Gombloh adalah laki-laki biasa. Ia hidup biasa. Bangun biasa. Makan biasa. Tidur biasa. Dari lahir sudah biasa semua. Tak satu pun dalam hidupnya aneh, tak biasa. Ia biasa berangkat sekolah malas-malas, masuk menjelang guru datang ke kelas. Ia pulang sekolah juga malas, lebih banyak mengaso dulu di warung bakso Bang Leni. Minta krupuk udang, dihiasi dengan saus yang katanya dari cabai, lalu melahapnya. Sekali waktu Iwan Gombloh juga menikmati rokok diam-diam di sana. Lebih banyak kena tegur Bang Leni, lantaran bapaknya dekat dengan Bang Leni. Tapi, ia juga sudah biasa mengeyel.

Sore kalau lagi waras kepalanya, mau juga dia masuk langgar. Mengaji sebentar supaya terlihat bersemangat menyelesaikan pelajaran Alqurannya yang dirasanya tak akan pernah selesai meski sudah jengah menghafal sekalipun. Malamnya, sudah biasa dia malas mengerjakan pekerjaan rumah dari gurunya. Iwan Gombloh lebih banyak mengawang di kamarnya, menikmati sawang yang makin lebat dan redup suara di rumahnya. Jam sembilan dia sudah lelap. Begitu terus dia menjalani hidupnya. Dari pertama kali bapaknya mengajak ia dan keluarga pindah ke rumah baru, jauh dari kota, sampai kini. Iwan Gombloh tak menolak, ia biasa menerimanya.

***

“Masih mencari apa yang kamu maksud dengan siapa kamu?” kata wataknya.

 “Sudahlah. Kekanak-kanakan, asal kau tahu,” Iwan Gombloh membalas.

“Kenapa tak menyerah saja sih?” lagi bicara wataknya.

Iwan Gombloh lalu besar juga. Hampir empat belas tahun ia hidup di rumah baru itu. Entah sudah berapa banyak yang dilakukan Iwan Gombloh di sana. Entah apa saja, Iwan Gombloh juga sudah tak lagi ingat. Beberapa ia ingat benar sebab itu dilakukannya berulang kali dalam hidupnya. Ketika ia tiap hari mengayuh sepeda baru hadiah lulus sekolah dasar misalnya, untuk pergi ke sekolah menengah.

Ia masih biasa datang menjelang guru datang ke kelas. Anehnya, ia malah dijadikan ketua kelas. Entah pula alasannya apa. Iwan Gombloh tak pernah bertanya kepada teman-temannya dan gurunya juga tak pernah menjelaskan. Jadi, sudahlah Iwan Gombloh menjalani tugasnya saja jadi ketua.

Pagi-pagi tiap kali ia harus ke sekolah menengah, ia akan melewati padang sawah yang mahaluas. Itu pendapatnya kala itu. Mahaluas sebab tak terlihat di mana ujungnya, masih tertutup kabut segala yang dipandang Iwan Gombloh setiap melewati padang sawah itu, terutama musim panas. Matahari? Ada juga, namun cahayanya tak sanggup membelah padi, apalagi kabut pagi. Ya sudahlah, Iwan Gombloh hanya berpatokan pada jalan setapak yang selalu lupa dapat bantuan perbaikan dari pemerintah pusat. Begitu, nasib jauh dari presiden negeri.

Itu adalah saat-saat Iwan Gombloh menikmati indahnya karunia Tuhan. Melihat kerbau-kerbau digiring untuk mandi oleh pengasuhnya yang bahkan masih berselimut sarung. Juga melihat gelak tawa para kawan yang sama bersepeda berjajar dua sepanjang jalan. Andai saja terlihat jelas, tentu akan ada istilah mengular sawah rombongan sepeda anak sekolah menengah itu. Tawa riangnya menggambarkan suasana yang tak akan bisa diganti dengan apa saja, bahkan dengan deru jalanan Jakarta.

Di sekolah menengah, Iwan Gombloh juga biasa saja. Anak baru gede yang sudah mulai suka curi-curi pandang kepada bintang kelas. Kecantikan mahadahsyat bagi Iwan Gombloh yang tiap pagi hanya melihat kerbau mandi. Ketakutan yang luar biasa bahkan hanya untuk sekadar menaruh senyum kepadanya. Karenanya, Iwan Gombloh berpusing lagi dengan kepalanya. Memandang guru yang tak bikin nafsu untuk belajar, apalagi menyelesaikan membaca barang satu bab saja.

“Apa salah? Yang kuinginkan hanya mengerti apa dan siapa diriku ini?” Iwan Gombloh mengawang.

“Lantas setelah kau paham, mau apa?” wataknya mengejek.

“Lantas setelah aku paham, aku akan mengerti di mana peranku harus berjalan. Itu saja,” seperti merengek Iwan Gombloh berucap.

“Tolol! Lagi-lagi tolol!”

Iwan Gombloh lebih suka pura-pura sakit atau sekadar beralasan ikut rapat OSIS atau pertemuan ini-itu mewakili kelasnya. Pernah juga sekadar bilang mau ke belakang kepada gurunya, lalu malah meneguk Topi Miring bersama kawan-kawannya di parkiran umum luar sekolah. Sempoyongan lalu masuk kubangan kerbau waktu pulangnya. Kapok dia setelah itu. Topi Miring benar bikin miring katanya.

Besoknya ia merenung, apalagi bapaknya marah-marah setelah tahu kelakuan Iwan Gombloh. Dua bentuk gagang kemoceng bertengger jantan di pantat Iwan Gombloh. Membuatnya sulit duduk hari itu. Sialnya, ia kepergok sama bintang kelas, dikira sembelit barangkali. Merah padam muka Iwan Gombloh.

Sampai saat kelulusannya, Iwan Gombloh tak bernyali mengungkap rasa kepada bintang kelas. Ya sudah, cinta monyetnya berlalu tanpa sempat ia mencintainya. Namun, Iwan Gombloh biasa saja. Menganggap lalu dan optimistis dengan hidupnya di sekolah atas.

***

Sekolah atas tak seperti yang diketahui Iwan Gombloh lewat lagu seorang penyanyi pop Ibu Kota. Katanya sekolah atas adalah masa paling menyenangkan. Menebar cinta dan bercinta di sana-sini. Nakal dan bergumul dengan keliaran. Menikmati senja sampai padam. Melinting rokok sendiri, mengisapnya, mengawang bukan main di depan warung mi ayam terminal lama.

Bohong. Dengan nilai UN yang pas-pasan, Iwan Gombloh hanya mampu masuk sekolah yang sama sekali bukan idola. Letaknya jauh hampir sampai laut. Lelah juga kalau ditempuh pakai sepeda. Akhirnya bapaknya mengalah, dibaginya motor buatnya. Bapak jadi harus mengantar ibu tiap pagi buat ke pasar, lalu sorenya menjemput lagi. Sementara, Iwan Gombloh malah sering pulang lepas Magrib. Pakai alasan Pramuka, OSIS, PMR, bahkan kerja bakti kalau tiba-tiba habis akal.

Sebenarnya Iwan Gombloh sendiri bukan anak kemarin sore lagi. Sudah sekolah atas, sudah harus siap kembali ke masyarakat. Sudah harus berpikir mencari kerja atau membantu bapaknya menyiangi padi milik keluarga. Namun, Iwan Gombloh masih suka melamun. Kadang menikam senja di pantai dekat sekolahnya. Kali ini bukan Topi Miring yang diteguknya. Ia bawa merek luar negeri kali ini. Bikin badan segar kata teman sebangkunya. Kadang, sebelum guru masuk mereka ke pantai sekali dua. Biar bisa menerima pelajaran dengan wajar. Menyerupai kawan-kawannya yang pintar.

Di kelas Iwan Gombloh memang banyak gadis pintar. Gadis pintar cuma berkawan dengan perjaka pintar, kalau tidak gemulai. Iwan Gombloh tak peduli. Sejak awal dia hanya peduli dengan gadis sebelah. Polahnya bikin Iwan Gombloh gerah. Ingin gigit bibir gadis sebelah dengan mesra. Begitu inginnya, sampai dia suatu ketika mengikuti gadis sebelah ke kamar mandi perempuan saat kerja bakti. Ia tahu tak banyak ada murid lain sore itu. Ia memberanikan diri. Dikuncinya pintu kamar mandi perempuan dari dalam olehnya.  Gadis sebelah terkejut sementara, lalu berpagut dalam mesra dengan Iwan Gombloh. Iwan Gombloh merasa jadi laki-laki benar sore itu. Hanya berpagut, tangannya tetap kejang mengepal di sisi badan. Gadis sebelah juga, bahkan beberapa kali gadis sebelah seperti mengupas kulit jarinya sendiri.

Cukup lama mereka berpagut. Sekali berhenti lalu mata mereka berbicara. Lalu main lagi. Begitu anak muda. Sampai tak sadar birahi di ubun-ubun, pintu diketuk. Iwan Gombloh panik, melepaskan bibirnya dari bibir gadis sebelah dengan keras. Sampai bukan kulit tangan gadis sebelah saja yang terkelupas. Iwan Gombloh nekat memanjat ventilasi. Keluar dari dinding, setelahnya siul-siul bodoh. Keduanya belum pernah bicara dan tak tampak berkeinginan membicarakan. Sudahlah. Anak bocah.

***

Iwan Gombloh memang tak pernah merasa dirinya sebagai orang baik. Orang yang bisa memberi nasihat kebenaran buat kawannya. Buat dirinya saja, dia sudah cukup keteteran. Ya, mau bagaimana, Iwan Gombloh hanya orang biasa yang tak banyak memikirkan apa-apa.

Iwan Gombloh juga bukan murid pintar. Nilai rapornya juga hanya papan tengah di kelasnya. Jadi jangan harap dia dapat masa depan yang baik juga kata guru bahasa Indonesianya. Iwan Gombloh tak peduli ketika itu semua didengarnya dari wali kelas, dikatakan kepada ibunya waktu ambil rapor.

Di waktu begini Iwan Gombloh sudah sangat sering keliaran malam-malam. Menikmati kecubung di pematang sawah sambil pura-pura menjaring ikan tengah malam. Kadang ia juga nonton dangdut bersama kawan-kawannya. Bukan untuk mendengarkan lagunya, sebab ia tak pernah hafal lagu dangdut, sekadar berjoget setelah sebelumnya menenggak anggur merah di balik pohon kelapa. Bertabrakan dengan penjoget yang lain, lalu berkelahi tanpa rasa sakit.

Sampai bapaknya lihat, diseretnya dia lalu dimandikan di sumur belakang rumah. Sambil digambar kemoceng di pantatnya. Lalu tidur lelap malam itu. Paginya bapaknya bilang akan mengeluarkannya dari sekolah atas lalu menyuruhnya menyiangi padi. Gemetar bukan main Iwan Gombloh. Sebab bila ia keluar sekolah atas, itu berarti ia tak akan ketemu gadis sebelah yang dipagutnya waktu kerja bakti.

Melawan Iwan Gombloh kepada bapaknya. Ia masih mau sekolah. Buat apa kata bapaknya. Ia sekolah tak benar. Menghabiskan uang saja. Ibunya menangis di pojok rumah mendengar lelaki berkelahi. Iwan Gombloh bingung. Buatnya sebenarnya tak masalah tak sekolah, hanya saja bagaimana dia akan memagut gadis sebelah di kamar mandi perempuan jika ia tak ke sekolah.

Bapaknya memperlihatkan rapor merah milik Iwan Gombloh. Diceritakan pula kisah mahadahsyat tentang seorang pelaut yang mengarungi samudera untuk menggambar peta dunia. Ia terjatuh berulang kali, tergulung ombak, lalu pecah kapal perahunya. Lalu dari batang sisanya, dibikin compreng dan berlayar lagi. Tanpa dayung terombang-ambing di laut, lalu mati sia-sia.

Sebelum mati pelaut menyelipkan buku catatannya ke dalam sebuah kotak kaca, menahan air masuk. Kotak kacanya terdampar di sebuah pelabuhan bersama compreng dan mayat pelaut. Kota asing disinggahi mayat asing. Kotak kaca itu ditemukan seorang yang paham mengenai isinya. Peta dunia terbuat. Semua menjadi mudah berlayar berkat pelaut. Namanya menjadi impian, mayatnya dikubur di pemakaman para terhormat. Ia menjadi lambang baru kota asing itu.

Iwan Gombloh lalu berjanji akan selesai sekolah. Akan dibuktikan kepada guru bahasa Indonesianya bahwa ia mampu. Ia akan tamat. Pergi ke universitas lalu kerja sebagai orang berguna bagi semua orang. Gadis sebelah tetap setia dipagutnya sampai selesai sekolah atas.

Iwan Gombloh ke Ibu Kota. Menantang universitas pertama dengan modal dua pasang sepatu. Sedang gadis sebelah tinggal di kampungnya. Memagut laki-laki lain. Iwan Gombloh berperang dengan hati patah. Hati tak bergairah untuk cintanya. Ia dendam pada laki-laki pemagut gadis sebelahnya. Hendak ia racun atau tikam kalau sempat, saat sekali waktu pulang ke rumah di libur pelajaran.

Di libur pelajarannya yang ke sekian, ia mantap akan meracuni laki-laki itu. Ia sudah memikirkan masa depannya. Kalaupun laki-laki itu mati, akan dibawa kaburnya gadis sebelah ke Ibu Kota dan menyelip di antara keramaiannya. Orang kampungnya tak akan sampai berani jauh ke sana. Pulanglah ia. Disambut janur kuning di pekarangan gadis sebelah. Tayub bertabuh, panggung sedang dibuat, persiapan orkes dangdut. Dilihatnya gadis sebelah di pelaminan, tersedu. Di sampingnya laki-laki lain yang berani memagutnya. Gadis sebelah terlihat gendut. Bunting sepertinya.

Iwan Gombloh tak pernah memberi selamat. Tak pernah menampakkan hidungnya. Tak pernah meracuni laki-laki pemagut gadis sebelah. Tak pernah jadi menyelinap di balik Ibu Kota. Ia cuma meletakkan buku pelajarannya di rumah bapaknya. Lalu beranjak menempuh jalan jauh di rimba beton-beton penantang langit. Tergolek lemah di pondoknya, memikirkan gadis sebelah. Memandangi sisa foto tua yang dicurinya dari dompet gadis sebelah. Iwan Gombloh melarat rasa sudah.

“Setan alas! Dasar kutu dungu bebal kau! Semoga lekas mati kau dilindas kendaraan proyek,” wataknya marah-marah tak keruan.

“Aku bukan kutu, kau dengar? Aku bukan bangsat! Aku tak akan mati layu di atas dipanku. Kau dengar?” Iwan Gombloh menantang wataknya.

“Itulah kau! Yang begitu yang kau bilang mencari makna? Yang begitu yang kau bilang menjadi manusia yang berarti? Itu tak lebih dari sekadar berpaling. Menghindar. Lari. Itu yang kau lakukan!” lagi-lagi suara wataknya.

“Apa maksudmu?” Iwan Gombloh berteriak menahan dewasa.

***

Waktu harusnya wisuda, Iwan Gombloh malah menonton klub bola kesukaannya main. Sementara, ibu bapaknya datang jauh dari kampung. Iwan Gombloh biasa saja menanggapi hari itu. Ia cuma mau melihat klub bola kesayangannya secara langsung.

Pagi harinya tadi, harusnya Iwan Gombloh menjemput mereka di stasiun kota. Namun, ia menyuruh salah satu temannya untuk ke sana. Kikuk bukan main bapak ibu dengan temannya. Tapi sudahlah, mungkin mereka sudah biasa juga dengan kegilaan Iwan Gombloh.

Begitu tiba di pondok, Iwan Gombloh menyalami mereka lalu berkata bahwa wisuda akan dimulai siang harinya. Mereka dipersilahkan tidur di kasur Iwan Gombloh. Siangnya sebelum berangkat ke aula wisuda, Iwan Gombloh minta izin akan pergi menonton klub bola kesayangannya main di stadion utama. Ibu bapaknya melongo. Apa boleh buat, mereka berangkat menghadiri wisuda anaknya yang sibuk menonton klub bola kesayangannya. Kawan Iwan Gombloh yang sudah sangat ingin diwisuda menggantikannya.

Sorenya mereka makan bersama. Di sebuah restoran mewah yang sudah disiapkan Iwan Gombloh untuk menyambut ibu bapaknya. Di sana bapaknya bercerita tentang sebuah kota yang dilanda hujan tak henti. Selama sepuluh hari hujan turun tak berhenti di sana. Menamatkan empang, menamatkan kakus, dan paling parah menamatkan sawah. Semua sirna. Hujan yang biasanya lazim, kini menggetarkan banyak orang. Kecuali seorang anak kecil.

Anak kecil yang selalu yakin hujan itu baik. Hujan yang datang dengan keberkahan dari dewata. Keberkahan untuk menjadikan kota itu lebih baik. Ketika seluruh penduduk kota menerawang langit yang talangnya bocor, anak kecil itu kecipak main genangan dan mendermakan diri dihujani rindu air kepada tanah. Sambil bersenandung nyanyian permainan anak yang selalu dilakukannya bersama kawan-kawannya.

“Tidakkah kau mengerti? Aku ingin mengerti. Mengertilah sedikit,” wataknya gusar.

“Aku mengerti. Benar-benar mengerti. Bukan sedikit saja. Mengertiku malah kadang berlebihan. Tapi, tidak buat kutu dungu sepertimu. Tak ada ampun buatmu,” selalu ada suara-suara dari ladang. Wataknya. Iwan Gombloh gagap mendengarnya

Langit memang terus gelap sepuluh hari itu. Tak satu wajah pun yang tak kuatir dengan apa yang akan terjadi. Kecuali anak kecil. Anak kecil percaya, talang langit tak akan pernah bocor. Menumpahkan kemurkaan dewa. Ini adalah berkah buatnya. Lalu masih berkecipak dirundung hujan, ia berlari menuju sungai. Membuka dam sungai yang mengganggu laju air menuju pelukan ibunya, samudera.

Pulanglah kalian ke pelukan ibumu. Sampai jumpa beberapa waktu kalau kau sudah jadi hujan lagi. Kita main lagi nanti. Anak kecil berkelahi dengan petir, suaranya redup didengar air sungai yang menyusu kepada samudera. Anak kecil melamar laut dengan lambaian tangan dan senyumnya.

Iwan Gombloh insaf. Ia terlalu terlena dengan dugaan. Ia tak pernah menggapai kenyataan lagi setelah gadis sebelah yang dipagutnya menikah dan bunting. Ia mengerti sudah, dari yang bapaknya katakan, tentang apa yang harus dilakukannya kini. Mungkin akan sedikit menyakitkan, tapi mesti. Sebab jalan memang harus dibenarkan. Rel yang melintang karena kereta bertubrukan, harus dibenahi lagi. Bapaknya tak berkata. Hanya matanya mengangguk kepada keinginan Iwan Gombloh. Muka Iwan Gombloh tak lagi kejam. Ia hanya menimba segala yang tersisa dari awang-awang yang menjemukan dulu. Menyiangi yang salah, memilih yang wajib dilakukan. Akan terbentuk gambar baru, kata Iwan Gombloh.

Aku sadar kini kata Iwan Gombloh. Sambil melipat serbet makan restoran terkemuka itu menjadi bentuk pesawat. Semua bengong. Ketika sempurna terbentuk pesawat serbet itu, diterbangkannya oleh Iwan Gombloh. Pesawat serbet melayang menuju seluruh ruangan. Pengunjung bingung, ada yang girang ada yang pingsan. Namun, pesawat serbet terus mengejar angin. Melayang makin tinggi menuju awang-awang berpendar jadi kuning ketika menabrak lampu neon. Lalu melayang lagi menuju kisi-kisi, melewatinya dan menggapai bintang yang sewarna pelangi. Sudah jadi binasa kegelisahan dalam segala benak orang-seorang di meja itu.

Seperti waktu aku masih kecil, Pak. Waktu kita sering menikmati sore sampai puntung. Bapak menggembalakan kerbau kakek, aku main layangan. Layangan terbang kubawa berlari, sebelum akhirnya terjatuh karena tahi kerbau yang berak berantakan. Bapak berlari, membersihkan tahi kerbau di kaki sampai dengkulku.

Demikian selalu mimpi-mimpi dibeli dari langit di kampungnya tiap sore. Dengan hasrat menjaga alam dewata, semua serasa menggairahkan ketimbang pagut dengan gadis sebelah, jalanan sawah yang tertutup kabut, atau wiski ciu malam-malam di pematang bersama kawan.

Semuanya sangat mesra, sampai senja puntung. Jika senja puntung, tali layangan kugelung. Bapak ambil caping dan kelu kerbau digenggam di sisi kanan tangannya. Tangan kirinya genggam tanganku. Aku nakal mencoba menerbangkan layangan sambil pulang. Dari belakang orang melihat dengan senyum.

Lalu puntung senja di meja makan pula. Semua pulang ke kandang, juga bapak dan ibu Iwan Gombloh yang kembali ke kampung sore itu juga. Tak bersisa malam di Ibu Kota. Hanya saja ada yang sangat membekas, Iwan Gombloh sudah tidur pada pukul sembilan. Berencana bangun pukul setengah enam pagi nanti, demi menggenapi tali layangannya yang sempat putus. Tunggu saja, jangan sampai pulang di senja yang puntung, pikir Iwan Gombloh.

***

*judul ini memodifikasi judul kumpulan cerpen Eka Kurniawan yang berjudul Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi

Advertisements

2 thoughts on “Lelaki yang Mengubah Jalan Hidupnya Lantaran Mimpi*

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s