Membaca Arok

Dari 4 Januari 2011; Ken Arok

suryaden.com

Foto: Suryaden.com

Menjadi bagian dari sejarah dan menjadi tokoh yang dianggap tidak baik bukan berarti ia tidak memiliki kebaikan sama sekali. Sejarah telah mencatat banyak versi cerita tentang dirinya. Memang demikian adanya, sebuah cerita berkembang dengan banyak versi. Ada versi yang benar, maksudnya mendekati cerita sebenarnya, ada pula cerita yang banyak bualannya. Ya, biar bagaimana semua sah-sah saja karena sebenarnya masyarakat tidak akan pernah tahu cerita sebenarnya. Bahkan, informasi yang berasal dari sang pelaku pun tidak dapat dikatakan sebagai cerita sebenarnya. Pada dasarnya semua orang mempunyai pandang masing-masing terhadap suatu cerita. Jika demikian bolehlah seorang membentuk cerita atau menuturkan suatu cerita dengan gaya masing-masing atau versi masing-masing. Kecenderungan untuk mencipta sesuatu dari sesuatu merupakan salah satu proses kreatif yang sangat lazim. Karena, sebenarnya proses seperti ini akan menambah kemajemukan karya.

Coba kita tengok sebuah karya yang menggunakan proses kreatif seperti itu. Sebuah karya berupa naskah drama dengan judul Ken Arok karya Saini K.M. dapat dijadikan sebuah contoh. Sebuah naskah drama yang mengambil cerita dari seorang tokoh sejarah, Ken Arok. Mengapa naskah drama? Naskah drama merupakan sebuah media yang bebas. Bebas dalam memberikan intervensi kepada pembaca dan bebas untuk diterjemahkan, intepretasi, oleh pembaca. Ya, tentu saja akan ada banyak kesulitan dalam melakukannya karena setiap orang memiliki bayangan masing-masing yang berasal dari pengalaman hidup.

Ken Arok pasti akan menjadi seorang yang sangat dibenci oleh masyarakat Kerajaan Kediri. Tidak mendapat tempat dan selalu disumpahserapahi. Ya, apa boleh buat. Ken Arok Sudah mati. Sejarah sudah mencatatnya sebagai orang jahat, perampok dan begal yang berhasil menjadi raja. Jika boleh menempatkan diri di sisi Arok, akan ada pertanyaan yang keluar. Apakah salah menjadi diri sendiri? “Saya ini dilahirkan sendiri, tidak tahu ayah-ibu. Saya belajar hidup sendiri. Tentu saja saya menentukan jalan hidup saya sendiri.” Kira-kira begitu yang akan dikatakan Arok, saya rasa.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s