Jiwa-jiwa Jingga

Aku baru saja turun dari gunung. Tempat Bapakku mencari nafkah. Aku baru belajar berjalan kini. Justru setelah aku meninggalkan rumah Bapak. Aku senang karena bisa belajar, terutama karena belajar berjalan. Berjalan kaki tertatih dan kadang jatuh, tak semulus bayangan mentari, aku berhenti buat berteduh entah dari panas atau hujan kadang. Aku putus. Di antara belantara aku belajar berjalan menyusuri gunung. Mengelilingi tebing dan terlibat dengan sawah pada hijau daun padinya. Aku berjalan saja. Seperti sahaja pagi dan indahnya petang.

Bapakku tahu aku ingin ini. Meski sedikit ngeyel padanya, aku tetap hormat pada Bapakku. Dan Bapak juga tahu itu. Kami tak saling bicara banyak. Begitu memang lelaki di rumahku. Aku sadar saja. Tapi kemudian kami menemukan cara kami berdialog. Di antara setiap kebutuhan dan tanggung jawab terhadap berlangsungnya rumah dan juga masyarakat di gunung itu, kami berdialog meski melalui embusan angin. Riang kemilau padi yang beku tersiram air pasang, ikan pada muncul, dan lalu tembus pada abu yang menerjang dari kawah gunung, aku dan Bapak senantiasa berkata. Kudengar deru jantungmu, Nak. Menderu bagai peluru yang nyasar nangkring di balik rumpun bambu atau ketapang samping rumah Kang Parmin. Kudengar jerit kesepian mengiringi langkah yang membatu hari demi hari. Dan pergilah. Kurelakan kau menempuh jalan takdirmu.

Lalu maafkan Bapak, aku bak katak hendak melompat. Menempuh jalan gelap agar genap rasa di dadaku. Tentang rahasia bumi. Tentang nelayan mati hanyut. Tentang kawan yang pulang perang. Diikat serdadu kemiskinan dan ketawai angin yang memesona daun sengon. Tentu kau juga paham, Bapak. Aku juga anak angin. Batara Bayu. Narada yang bercerutu, ceritanya sampai menempuh ke pelepah kemangi. Aku anak angin, di malam dayaku sebentar angin, menyiangi padi yang menguning. Mengintip kepodang sedang kawin. Mencelakakan jangkrik dan mencuri timun. Aku anak angin. Maka jingga jiwaku terbawa terbang ke negeri nun.

Dialog Bapak dan aku begitu singkat. Ketika kami berpisah di pinggir jalan, tak ada peluk sayang atau cium doa di keningku. Kami berjabat. Hormatku lalu kucium tangannya yang penuh luka duri ilalang dalam membesarkanku. Sekali lagi kami berjabat. Doakan aku, Pak.

Yang kutumpangi adalah gerobak sapi milik saudagar Cina yang berminggu sekali mengantar persediaan ke gunung tempat ayahku mencari nafkah. Sudah akrab kami di jalan yang sesiangan hanya diisi empedu dan kemalangan gunung tempat Bapakku mencari nafkah.

***

Waktu hampir saja menghapuskan deru dadaku. Hampir-hampir aku tenggelam dan jadi tenang seketika. Dan lupa akan peluru-peluru yang nyangsang di rumpun bambu. Waktu memang memberiku daya ledak, tapi bukan peluru yang menembus jantungmu. Dan sementara jantungku hampir-hampir berhenti, laras matamu mengingatkanku pada desau-desau kebengisan hati. Aku buru-buru mencintai deru lagi.

Sayang hatiku patah sudah. Akan apa yang diberikan waktu, aku berjalan dan sempat jatuh pula. Aku hanya menyangka di sedikit saja batas wajah jingga, aku mampu berjalan lagi. Dan aku salah menduga. Duka dan bahagia. Semangat dan lelah. Cinta dan patah. Kekuatanku kini hanya kepasrahan kepada Isa. Sinkretisme antara yang agung dan lena tentang kebajikan. Isa mengajarkanku berjalan menembus angin. Tapi bukan Siddartha dengan dukanya. Aku anak angin ingin belajar membelahnya. Sesudahnya mungkin tiada, tak apalah.

Berjalanku di bawah bayang-bayang lampu jalan. Alam lain yang rupanya beda dengan rupa gunung tempat ayahku mencari nafkah. Tak ada pohon. Tak ada mentari. Tak ada air. Tak ada api. Di mana-mana hanya hancur darah dari kecupan dosa.

Namun juga kamu ada di sana. Di antara puing kenanga dan wangi nakhoda. Kamu yang selalu sempat membuatku berhenti berjalan. Menitah pura-pura agar bisa bijaksana membelah angin. Kamu sengaja, aku gagap dalam bercinta. Di relungku. Di jantungku parasmu manis. Menikam angin yang hanya ada di khayalku. Dan badanku nggigil kepanasan. Kamu manis menerkamku sampai pasrah saja. Dan jalan kita hanya kebijaksanaan yang bisa mengulangi. Yang bisa mencerna awan dan angin yang kemilau, jalan mana saja yang sengaja memburu debu dan buku dan apa saja yang menyasar. Kamu Manisku, yang duduk berbaju putih dengan rambut yang dicat setengah jambon, dan mata yang binarnya menusukku sampai kelu. Gemetar kencang benar menampar tangan.

Dan jantungku, Manis, tahukah kau? Seperti gulungan ombak tsunami yang pecah menghantam pakis pada berkebas. Aku hanya ramah dalam bayang suara. Aku hanya ramah dengan angin. Sebab jantungku, terkoyak oleh matamu, Manis.

Sayang waktu hanya bahagia buat mereka yang sudah menyeka alam menjadi petai-petai dan menanam beras di atas kaleng cat. Buatku, waktu tak pernah membawa bahagia. Sebab aku hormat kepada Bapakku.

Waktu menyakitkan kaki-kaki yang melangkah terjal, melawan bara dan dingin malam. Waktu sengaja ditumbuk dalam lumpang dengan alu dari kayu nangka. Dan bahan bakarnya yang utama tentu saja ontel-ontel orang gila. Aku anak angin. Kegilaan mudah terserap asal datang dengan nada yang ramah. Aku berjalan tak tau arah. Di atap rumah atau celah jendela, kutinggalkan yang mestinya tak pernah jadi milikku.

***

“Jiwa-jiwa jingga pulang kembali dari arena yang malang. Di sini sawah berbisik, dari kabar kunang-kunang tadi malam. Sayang paginya sudah kembali jadi kuku, dan tak bisa juga bersaksi. Jiwa-jiwa yang malang ada di antara asap kelabu yang menyisir desing peluru. Pulanglah kau kepada api dan kayu, dan tanah yang maha esa menjaga takdir kita berbuyut-buyut.”

Kukira Bapak sudah memanggil. Sambil menari dan menyanyi yang bikin menggigil, suaranya bening sampai di jiwaku. Aku memang sedang jingga dalam alam yang tiada bermata air. Dan pucuk kawan yang muda, di antara desing anginnya, kudengar peluru mengamuk di jendela. Pada kaca-kaca yang meruntuhkan batin manusia. Aku hanya terbuai dengan rasa. Dan kamu jangan menyerah mendengar berita dari televisi, atau juga kebohongannya.

Batinku adalah batin orang gila yang memanggul mayat istrinya sendiri ke mana-mana. Di sela buntut burung dara. Sawangan ngangingung menyanyikan kesenduanku sedih. Dan pada alam mayapada, aku mengawang ingin menjemput alam dan angin kembali ke gunung tempat Bapakku mencari nafkah. Atau sebaliknya sebenarnya jika Bapakku kenan.

Deru kereta yang kudengar biasa di alam ini, dan pada belalang bambu yang ngintai dengan bunyi saring, jiwaku jadi jingga dengan kenyataan. Kembali atau menetap, bersama atau berpisah, gembira atau bersedih, dan yang menjadi arena adalah tasawuf di ujung malam bersama Jibril.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s